* Wong Edan *

Menu
Kategori
IT Holic [9]
News [5]
Coretan Bijak [7]
Tahukah Anda ? [6]
UnPublish [2]
Catetan
Kumpulan Coretan
Kalender
«  June 2011  »
Su Mo Tu We Th Fr Sa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930
RSS

My Yahoo
yahoo messenger icon
Search
Main » 2011 » June » 17 » Sabar Tanpa Batas
23:53
Sabar Tanpa Batas
Kalau sedang marah orang biasanya bilang, sabar itu ada batasnya. Tapi seorang ustadz atau teman baik, saudara atau orang tua kita biasanya akan mengatakan bahwa sabar tidak ada batasnya. Biasanya perkataan ini menyangkut sikap kita akan cobaan yg datangnya dari Tuhan. Saya merasa masing-masing yg mengatakan sabar ada batasnya dan sabar tidak ada batasnya bisa sama-sama benar walaupun berbeda konteks.

Kalau seorang istri yg tidak diberi nafkah lahir batin selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena suaminya tidak peduli dan bukan krn ada musibah yg menimpa sang suami, apakah wanita ini harus terus menerus sabar? Bahkan ada suami yg bolak balik memukuli istrinya sehingga menimbulkan trauma bukan hanya thd istrinya juga terhadap anak-anaknya, apakah sang istri juga harus terus menerus sabar?



Di kantor misalnya ada anak buah yg kerja semau-maunya, diperintah membangkang, tidak disiplin, pekerjaannya berantakan dan sang bos sudah sering memberitahu, apakah sang bos mesti terus menerus sabar? Kebalikannya, ada seorang karyawan yg bekerja dgn giat, disiplin tinggi, pekerjaannya memuaskan tapi bos dan perusahaan spt tidak peduli dan malah yg dipromosikan orang yg tidak pantas, apakah sang karyawan harus terus menerus sabar?

Ada kasus lain, misalnya ada yg tertimpa penyakit kanker, orang ini sudah berobat kemana-mana. Ke dokter, ke ahli herbal, ke luar negeri dll tapi prospek sembuhnya tetep masih kurang baik dan dia sptnya memperlihatkan kemarahan dan ketidaksabaran akan penyakitnya, kira-kira apa yg kita sarankan utk org ini. Walaupun kita mungkin tidak pernah mendapat penyakit berat, maka saran kita hanyalah sabar ya. Bisa jadi org yg kita kasih saran malah tambah sewot dan mengatakan: "You don’t know what I have been through. Gampang aja bilang sabar.” Tapi bisa jadi orang yg sakit ini memang orang yg sabar dan dia memperlihatkan ketabahannya dan dia berserah diri kepada Tuhan dan rajin beribadah kehadapan-Nya.

Dalam kasus-kasus di atas jelas bahwa sabar mesti ada alasannya dan pada tempatnya. Apakah istri yg teraniaya di atas harus terus sabar dan mempertahankan bahtera rumah tangganya? Apakah sang bos harus terus menahan emosi dan terus mempekerjakan bawahannya? Apakah sang karyawan harus terus nongkrong di perusahaan memble itu dan loyal thd atasan dan perusahaannya bekerja saat itu? Apakah yg sakit tsb harus terus menerus tidak menerima keadaannya dan tidak sabar dengan penyakitnya?

Saya kira umumnya orang akan sepakat bahwa pada kasus tertentu sabar, dalam arti menerima begitu saja keadaan, tidaklah pada tempatnya spt kasus istri yg teraniaya di atas. Dalam kasus ini sabar mestinya diartikan utk menerima masalah atau tantangan yg ada tsb, yaitu keterpaksaan menerima perlakuan yg tidak adil, dengan tetap merencanakan utk keluar dr perlakuan tidak adil tersebut. Ini bisa juga dimaknai sabar tetapi tetep berusaha mendapat sesuatu yg lebih baik. Bisa juga dimaknai bahwa tidak sabar dalam arti tidak menerima keadaan tsb dan mencari solusinya sesegara keadaan memungkinkan. Bagaimanapun cara pandangnya, kesabaran dan ketidaksabaran ini memiliki alasan yg cukup baik dan pada tempatnya.

Biasanya orang mengaitkan dgn sabar yg tidak ada batasnya adalah manakala seseorang menerima musibah yg datangnya tidak terduga dan musibah itu sangat berat dan efeknya bisa sangat lama. Misalnya seseorang yg terkena penyakit berat yg menguras biaya atau penyakit menahun yg tidak sembuh-sembuh atau bisa juga kehilangan seorang anak krn kecelakaan yg tidak diduga-duga. Orang2 biasanya akan menasehati dgn mengatakan bahwa sabar itu tidak ada batasnya.

Sebenarnya perkataan sabar tidak ada batasnya mengandung asumsi tertentu yaitu bahwa seseorang memiliki alasan utk bersabar tanpa batas. Tanpa suatu alasan tidaklah bermakna perkataan tsb. Bagi orang beragama alasan sabar tanpa batas adalah bahwa cobaan atau ujian itu datangnya dari Tuhan. Ujian dan cobaan adalah salah satu cara mengetes keimanan seseorang. Apabila dia sabar, berserah diri dan berdoa maka kehidupan berikutnya di akhirat akan mendapatkan kenikmatan.

Bagi orang yg tidak memiliki landasan agama atau alasan lainnya, akan sukar memaknai sabar tanpa batas krn tidak ada alasan yg mendasarinya. Apa alasannya saya mesti sabar menghadapi semua ini? Begitulah mungkin seseorang yg tidak memiliki dasar kepercayaan thd agama. Jadi jelas bukan bahwa sabar mesti ada alasannya dan bukan semata-mata sabar demi sabar itu sendiri apalagi dgn tidak berbatas pula.

Buat saya sabar tanpa batas mengkonotasikan keterpaksaan yg terus menerus. Seolah-olah tidak ada keceriaan sedikitpun dalam kata-kata sabar tanpa batas. Tentu saja org yg terkena musibah diminta utk ceria begitu saja ya keterlaluan. Yg saya maksudkan adalah bahwa seseorang pada akhirnya mesti menerima dgn legawa musibahnya dan belajar utk hidup dgn musibahnya dan mencoba mencari celah keceriaan di antara kesedihan dan kesukaran yg menimpanya. Kata2 sabar tanpa batas mengkonotasikan bahwa seseorang spt terpaku dalam kesukarannya. Nrimo, pasrah, nglangut (bener nggak nih), sunyi, mendung spt suasana hati saya kalo mendengarkan musik Cianjuran yg mengingatkan saya akan almarhum kakek saya di kampung yg suka mendengarkan musik ini.

Saya lebih suka menganggap masalah yg kita hadapi sbg tantangan (idealnya sih begitu padahal sehari-harinya emang susah bersikap spt ini). Tantangan lebih mengkonotasikan sebagai sesuatu yg mesti kita pecahkan solusinya. Bukan sebagai sesuatu yg semata-mata mengganggu kehidupan kita. Kalau kita memperlakukan masalah sebagai tantangan maka masalah yg datang merupakan cara kita utk naik kelas. Orang2 hebat di dunia ini hebat ya karena mereka telah menunjukkan suatu prestasi dalam memecahkan persoalan sehari-harinya atau persoalan orang lain dan kemanusiaan pada umumnya. Sukarno dan Hatta tahan diintimidasi Belanda, dibui, diasingkan, ditangkap dan dibatasi pergerakannya. Mereka mampu bersabar dan terus menghidupkan harapan bangsanya. Tidak semua org mampu spt itu. Karena itulah maka mereka menjadi orang besar.

Sabar tanpa batas mungkin tidak cocok dikaitkan dgn Lance Armstong yg terkena kanker dan kemudian sembuh dan akhirnya kembali menjuarai tour de france. Bahkan sabar tanpa batas juga tidak cocok dikaitkan dgn Randy Pausch pengarang buku "The Last Lecture” yg menerima vonis bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi krn penyakit kanker stadium akhir. Randy memperlihatkan suatu penerimaan yg luar biasa terhadap penyakit yg dideritanya. Kalau kita baca bukunya ada tanda2 keceriaan, optimisme dan rasa ingin berbuat sesuatu bagi orang lain di sisa-sisa hidupnya.

Beberapa tahun lalu pada titik dimana usaha saya memerlukan perjuangan yg paling sulit saya membaca buku Karen Armstong yg berjudul Muhammad (SAW). Saya beberapa kali membaca ulang buku tsb. Dgn membaca buku itu tingkat kesabaran saya menjadi bertambah. Bahwa dalam melakukan apapun yg menjadi tujuan kita memang memerlukan kesabaran, ketekunan dan keteguhan hati.

Memang ada masa2 dimana hanya tinggal kesabaran yg kita miliki. Tapi tetaplah mencoba berbuat yg terbaik yg mampu dilakukan dan milikilah harapan sehingga hidup menjadi lebih ringan. Ada yg bilang dalam menghadapi musibah yg seberat apapun tetaplah hadapi dgn grace and humour. Semoga kita mampu menghadapi hidup ini dgn kesabaran, keceriaan dan pengharapan.

Category: Coretan Bijak | Views: 1231 | Added by: dondon | Tags: sabar, odon ucoz, coretan, it holic | Rating: 0.0/0
Total comments: 2
0  
1 Nesecyclife   (17 November 2011 06:04) [Entry]
awal yang baik

0  
2 dondon   (13 March 2012 18:21) [Entry]
trims... smile

Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]



Copyright GendengCorp © 2026