| Menu |
|
 |
| Kategori |
|
 |
| Kumpulan Coretan |
|
 |
| Kalender |
| « April 2026 » |
| Su |
Mo |
Tu |
We |
Th |
Fr |
Sa |
| | | | 1 | 2 | 3 | 4 | | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | |
 |
| RSS |

|
 |
| My Yahoo |
|
 |
| Search |
|
 |
|
Main » Coretan Bijak
Kalau sedang marah orang biasanya bilang, sabar itu ada batasnya. Tapi seorang ustadz atau teman baik, saudara atau orang tua kita biasanya akan mengatakan bahwa sabar tidak ada batasnya. Biasanya perkataan ini menyangkut sikap kita akan cobaan yg datangnya dari Tuhan. Saya merasa masing-masing yg mengatakan sabar ada batasnya dan sabar tidak ada batasnya bisa sama-sama benar walaupun berbeda konteks.
Kalau seorang istri yg tidak diberi nafkah lahir batin selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena suaminya tidak peduli dan bukan krn ada musibah yg menimpa sang suami, apakah wanita ini harus terus menerus sabar? Bahkan ada suami yg bolak balik memukuli istrinya sehingga menimbulkan trauma bukan hanya thd istrinya juga terhadap anak-anaknya, apakah sang istri juga harus terus menerus sabar?

Di kantor misalnya ada anak buah yg kerja semau-maunya, diperintah membangkang, tidak disiplin, pekerjaannya berantakan dan sang bos sudah sering memberitahu, apakah sang bos mesti terus menerus sabar? Kebalikannya, ada seorang karyawan yg bekerja dgn giat, disiplin tinggi, pekerjaannya memuaskan tapi bos dan perusahaan spt tidak peduli dan malah yg dipromosikan orang yg tidak pantas, apakah sang karyawan harus terus menerus sabar?
Ada kasus lain, misalnya ada yg tertimpa penyakit kanker, orang ini sudah berobat kemana-mana. Ke dokter, ke ahli herbal, ke luar negeri dll tapi prospek sembuhnya tetep masih kurang baik dan dia sptnya memperlihatkan kemarahan dan ketidaksabaran akan penyakitnya, kira-kira apa yg kita sarankan utk org ini. Walaupun kita mungkin tidak pernah mendapat penyakit berat, maka saran kita hanyalah sabar ya. Bisa jadi org yg kita kasih saran malah tambah sewot dan mengatakan: "You don’t know what I have been through. Gampang aja bilang sabar.” Tapi bisa jadi orang yg sakit ini memang orang yg sabar dan dia memperlihatkan ketabahannya dan dia berserah diri kepada Tuhan dan rajin beribadah kehadapan-Nya.
Dalam kasus-kasus di atas jelas bahwa sabar mesti ada alasannya dan pada tempatnya. Apakah istri yg teraniaya di atas harus terus sabar dan mempertahankan bahtera rumah tangganya? Apakah sang bos harus terus menahan emosi dan terus mempekerjakan bawahannya? Apakah sang karyawan harus terus nongkrong di perusahaan memble itu dan loyal thd atasan dan perusahaannya bekerja saat itu? Apakah yg sakit tsb harus terus menerus tidak menerima keadaannya dan tidak sabar dengan penyakitnya?
Saya kira umumnya orang akan sepakat bahwa pada kasus tertentu sabar, dalam arti menerima begitu saja keadaan, tidaklah pada tempatnya spt kasus istri yg teraniaya di atas. Dalam kasus ini sabar mestinya diartikan utk meneri
...
Read more »
|
Ya Karena Anda Egois
"Kamu egois!”" "Kamu Ego”
Kata - kata itu sering kita dengar dari orang - orang yang menilai kita mementingkan diri sendiri. Ego atau egois adalah kata sifat yang menjelaskan sifat manusia yang mementingkan diri sendiri baik dalam perbuatan, tingkah ataupun tutur katanya. Jadi semua manusia secara alamiah menyimpan rasa ego dalam diri masing - masing.
Terus, mengapa ego sering diartikan secara negative? Ya ini menjadi fonomena tersendiri dimana kata - kata ego ataupun egois di dalam masyarak identik dengan sifat yang buruk. Misalnya ketika ada seorang Bos yang merintah bawahannya untuk langsung menyiapkan laporan tanpa mau mendengarkan alasan, dalam hati bawahannya akan berkata "Ah si Bos egois banget”
Atau ketika kita sedang berdiskusi dan ada yang tidak menerima pendapat kita, kita akan terjebak dengan kalimat "kamu memang egois”. Dari sini kita bisa lihat, penilaian ego atau egois akan kita berikan jika ada orang lain yang tidak mau menerima kita atau ada pihak lain yang melarang/ menyuruh kita tanpa kerelaan dari kita.
Bagi saya, semua kita egois. Egois terhadap pribadi kita, golongan kita, kelompok kita dan semua yang berhubungan langsung dengan kita.
Anda pasti tak percaya dan tak akan setuju dengan pendapat saya kan?
Ya
...
Read more »
|
Saya
sedang membayangkan sebuah pertandingan marathon yang diikuti oleh
ribuan peserta. Kemudian, saya berpikir sejenak untuk merenungkan
siapa saja diantara mereka yang akhirnya gagal menyelesaikan
pertandingan tersebut. Secara umum dapat diambil satu kesimpulan
bahwa mereka yang gagal mencapai garis finish adalah mereka yang
berlari tapi tidak mengikuti petunjuk arah yang telah ditentukan.
Mereka akhirnya terhenti di suatu titik dan kebingungan dalam
menentukan arah berlari selanjutnya.
Kesalahan
seperti ini adalah kesalahan fatal yang dilakukan oleh seorang atlit
marathon. Meskipun demikian, orang-orang dalam kategori ini bukanlah
...
Read more »
|

Setiap kali mendengar kata belajar, sepertinya hampir semua telinga berdengung. Itu pun terjadi pada telinga saya. Belajar bukan kata yang perlu ditakuti atau dihindari bahkan tak perlu dijadikan kambing hitam. Kenapa kita selalu mengasumsikan kata belajar dengan sesuatu yang kesannya serius, formal, kaku, membosankan, dan kata-kata yang bernilai negatif. Harusnya kita menyadari bahwa sejak kita dilahirkan kedunia ini, kita tak pernah luput atau lepas dari kata yang satu ini. Sejak bayi kita belajar menangis..apa benar menangis itu belajar? baiklah ambil contoh yang lain, ketika kita berumur 1 tahun kita belajar merangkak, kemudian dilanjutkan dengan belajar berjalan, dan belajar mengucapkan kata "mama". Banyak contoh yang bisa kita ambil bahkan sejak kita masih belum mengerti esensi dari belajar itu sendiri.
Ketika kita menginjak masa remaja, kata belajar ini semakin rumit atau semakin membuat kita penuh beban. Tak seperti dulu waktu kita balita yang dengan riang gembiranya melewati masa-masa belajar. Orang tua kita sering menyebutkan atau bahkan meneriakkan kata belajar penuh dengan pengharapan dan tekanan. "Kamu sudah belajar apa hari ini?" , "Kenapa kamu tidak belajar, malah main terus?", "Belajar sana!jangan males-malesan!", "Belajar kamu!atau uang jajan mami potong!". Apa yang terjadi dengan belajar di masa-masa seperti ini? saya teringat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Ibu saya pernah berkata "Kamu kenapa ga belajar, katanya mau jadi dokter?"
Kata belajar terus terngiang di telinga saya sampai saya menginjak dewasa. Kemudian saya menyikapinya dengan penuh beban. "Apakah benar saya harus giat belajar biar saya jadi dokter nantinya" hati kecil saya berbisik. Namun kenyataan berkata lain saya tidak jadi dokter saat ini, dengan catatan bahwa saya sudah belajar dengan giat pada waktu Sekolah Menengah Umum agar bisa masuk Perguruan Tinggi baik itu Negeri ataupun Swasta yang memiliki jurusan Kedokteran. Kesimpulan salah yang mungkin saya bisa saya ambil pada saat itu adalah tidak perlu giat belajar, toh saya tidak jadi dokter. Namun kesimpulan bijak yang bisa kita ambil dari kasus di atas adalah "ternyata diperlukan bukan sekedar giat belajar untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang ingin kita raih", ada faktor-faktor lain yang memang harus kita penuhi dan tentunya ada faktor X yang kita tak pernah ketahui sebelumnya.
Dari semua itu saya mendapati hal yang luar biasa dari kata belajar ini. Pada masa pertengahan kuliah, saya menyadari satu hal yang merubah pandangan saya akan kata belajar. Kita tidak perlu selalu bergulat dengan buku-buku tebal, bacaan-bacaan yang penuh dengan teori dan itung-itungan untuk
...
Read more »
|
Masih ingat iklan sebuah produk furniture "Kalau sudah duduk lupa berdiri?” Ya itu ungkapan sederhana yang membuat kita terlena dalam kenyamanan dan melupakan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Banyak individu disekitar kita tidak menyadari bahwa kenyamanan sebenarnya membahayakan! Kadang pula mereka kurang menyadari ketidaknyamanan adalah sumber kebahagiaan itu sendiri! Ini kontradiksi yang sering membuat kita salah dalam memilihnya!
Contoh lain yang bersifat dogmatis, adalah Da’jal! Sebenarnya Allah telah mengajari bagi yang suka membaca, bahwa disebutkan di akhir zaman akan muncul Da’jal (kejahatan berujud kebaikan) yang memberikan kenikmatan luarbiasa, namun ia pada akhirnya akan menemui kesengsaraan abadi! Sementara mereka yang memilih kesengsaraan tawaran Da’jal yang sebenarnya adalah kebenaran yang tersamar dalam keburukan! Mereka pemilih ini memperoleh kebahagiaan abadi!
Saya masih teringat almarhum Prof. Lexy J. Moleong, beliau secara keras melarang mahasiswa S2 untuk tidak pulang kampong sebab akan melupakan studinya atau paling tidak malas menyelesaikan studinya! Bahkan beliau menyatakan secara keras, kalau tidak boleh dikatakan tegas. Namun bagi yang mampu dan mau menangkap makna positif yang beliau katakan tentu hikmah yang diambil mengantarkannya ke tujuan. Saat itu 25 mahasiswa masuk S2 melalui seleksi Bappenas (sebelum tahun 1998 masuk S2 Proyeknas melalui lembaga ini, dan ketatnya minta ampun). Ternyata tersisa hampir 9 orang yang tak mampu menyelesaikan, bukan karena mereka bodoh, tetapi ia mati dalam kenyamanan tinggal di kampung dan lupa menyelesaikan studinya!
Berbagai gambaran di atas menunjukkan bahwa untuk mencapai cita, tujuan, impian, bukanlah pekerjaan mudah meskipun juga bukan hal mustahil. Kita harus berani untuk keluar dari zone kenyamanan untuk meletakkan diri kita berani berjuang menaklukkan berbagai hambatan dan kendala.
Dan kendala, hambatan, terbesar bukan datang dari luar, namun musuh utama ada di dalam diri kita sendiri. Merasa cukup, malas menyelesaikan masalah, kurang menantang, tidak mampu melihat nilai dari apa yang ingin dicapai, menganggap ringan atau menganggap terlalu sulit dan tidak ada upaya penaklukan, maka…. Selesai… kita gagal!!
Ingat! Dibalik kegelapan ada terang dan dibaling terang benderang ada kegelapan! Seseorang yang melihat seorang yang nampak galak, sangar, mungkin dibaliknya terdapat nilai-nilai yang mungkin kita butuhkan. Prof. Moleong, Prof. Jujun, Prof. Conny, adalah contoh dosen yang tidak mudah untuk didekati khususnya bagi mereka yang tidak siap dengan konsep, tetapi akan dengan mudah dan nyamannya jika kita mampu mendudukkan konsep dan beliau akan mendorong kita semakin mudah memasuki belantara logika tanpa tersesat! Terimakasih Prof!
Coba bandingkan dengan guru, dosen, yang member kemudahan, menganggap mudah, jika mahasiswa bertanya tentang berbagai masalah beliau hanya menyatakan "Ya suda
...
Read more »
|
Dulu, aku hanyalah seorang anak muda putus asa akibat patah hati, hidup tidak punya arah dan nyaris ingin mengakhiri hidup, kemudian aku datang kepadamu menyerahkan diri untuk dibimbing menjadi orang yang berguna. Datang dengan niat untuk mengobati luka hati yang tercampakkan oleh dunia yang kejam. Masih aku ingat malam itu, Engkau wahai Guruku membentakku dengan keras karena aku tidak setuju dengan Tarekat karena bagiku Tarekat itu sebuah kata yang tabu, sebuah aliran yang penuh bid’ah dan kesesatan. Hampir saja Engkau mengusirku dan syukur sekali malam itu aku bertahan dan tidak keluar dari Suraumu. Mengingat kenangan itu, aku ingin selalu menangis, air mataku mengalir tanpa bisa tertahan, syukur kepada Tuhan yang Maha Pemurah telah memperkenalkan dirimu wahai Guruku, kekasih Allah dimuka bumi. Sungguh, andai malam itu aku merajuk dan keluar dari suraumu, saat ini aku tidak tahu menjadi apa. Menjadi hamba setan dan Yang pasti aku menjadi orang yang menyembah Tuhan tanpa pernah kenal dengan Tuhan yang disembah. Seperti sindiranmu kepadaku, "menyembah tuhan kira-kira”.
Aku datang kepadamu, wahai Guruku, dengan kubangan dosa dan masih tersisa lumpur-lumpur kenistaan. Aku tahu jubahmu terpecik oleh kenistaanku dan yang membuat aku selalu menangis karena Engkau berkenan menerima diri hina ini. Menerima manusia yang sakit jasmani dan rohani. Ampuni aku Wahai Guruku, karena malam itu aku berbohong padamu. Karena ketika engkau bertanya, "apakah niat kamu menempuh jalan ini karena Allah?”. Aku jawab, "Iya”, padahal jujur wahai Guru, niat aku malam itu hanya untuk berobat saja. Maka aku bisa menerima bentakanmu karena niatku memang tidak tulus.
Syukur kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, yang telah memperkenalkan dirimu Wahai Guruku, karena kemudian setelah Allah berkenan membukakan hijabnya, ternyata aku baru sadar bahwa engkau adalah Guru Sejati, Wali Qutub, pemimpin para Wali dan cuma ada satu orang disetiap zaman. Sungguh syukur yang tidak terhingga karena engkau yang sungguh teramat mulia berkenan menerima aku sebagai muridmu. Maka disetiap langkah hidup ini, ketika ada yang menanyakan kepadaku apa kebahagiaan dan kemulyaan paling tinggi didunia ini? Tanpa ragu aku jawab, "kebahagiaan dan kemulyaan tertinggi bagiku adalah diterima menjadi murid wali, diterima menjadi muridmu wahai guruku”.
Wahai Guruku teramat mulia, sungguh dirimu adalah kekasih yang disembunyikan Allah sehingga manusia akan terhijab oleh kesederhanaanmu. Manusia pastilah mencari Guru yang jenggotnya panjang, jubahnya meriah sampai ke tanah dan surbannya tebal serta bahasa Arabnya lebih fasih dari orang Arab. Orang pasti mencari kekasih Allah dalam wujud orang yang suka pamer ilmu dan pamer ayat bahkan tanpa sadar menjual ayat-ayat Tuhan.
Engkau wahai Guruku, benar-benar sosok yang selalu menjaga kesucian jiwa, tidak ingin disanjun
...
Read more »
|
Mengapa selama hidupku ini, aku buta akan siapa diriku? Sehingga aku tersesat dalam kebodohan yang tak berujung. . . Aku harus segera mengenali diriku itu! 
Saya pernah membaca sebuah kalimat, yang maaf, saya lupa sumbernya_mudah-mudahan ada yang bisa mengingatkan! _ Yakni, ‘KENALILAH DIRIMU MAKA KAMU AKAN MENGENAL TUHANMU’. Tak heran ketika orang itu telah sungguh-sungguh mengenal dirinya maka akan berkata, "Ana Al Haq " atau "Manunggaling Kawula Gusti". Dan saya percaya orang-orang yang mengatakan demikian bukan untuk menunjukkan kesombongannya, tapi telah merasakan sebuah hati yang indah atas sebuah kesadaran siapa dirinya yang sejati.
Dan saya juga ingat, dimana dikatakan , Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan bentuk dan rupanya. Setiap manusia punya roh, itulah yang menyebabkan kita mempunyai kehidupan. Tetapi begitu roh itu meninggalkan tubuh ini, dikatakanlah kita telah mati. Lalu apakah roh itu? Banyak penjelasan, dan saya tak pintar untuk menjelaskannya. Hanya sedikit pengajaran yang saya dapatkan. Dikatakan, roh yang terdapat pada tubuh kita ini adalah roh suci diberikan oleh Tuhan. Ia putih bersih tiada ternoda dan ia abadi adanya. Ia juga adalah percikan Roh Tuhan.
Tapi pada kontek ini saya tak perlu menjelaskan panjang lebar tentang roh itu, karena bukan ahlinya. Karena inti dari tulisan ini juga bukan tentang roh. Karena kebanyakan dari kita yang hidup sekarang ini telah tidak mengenal lagi siapa dirinya yang sesungguhnya. Karena kita hanya mengenal secara fisik diri kita, saya ini hanya manusia yang bernama Katedra, umpamanya. Padahal ibarat tempat tinggal tubuh kita ini hanyalah sebuah rumah, dan didalamnya ada tinggal sang tuan rumah. Itulah diri kita yang sejati. Karena tubuh ini hanya palsu belaka, dimana ia akan musnah suatu saat bila waktunya telah tiba.
Jadi kita seharusnya menyadari sebenarnya ada mahkluk spiritual yang mendiami tubuh kita ini. Dialah yang harus kita kenali, bukan tubuh ini! Dialah yang seharusnya mengendalikan hidup kita. Jadi tak heran oleh sebab kita tidak mengenali diri kita yang sesungguhnya penuh kebajikan ini, kelakuan kita tidak layak lagi disebut manusia. Mengapa?
...
Read more »
| |
|
| Copyright GendengCorp © 2026 |
|
|